|
|
BERKEBUN, kini kembali menjadi pekerjaannya setiap pagi, setelah kurang lebih empat tahun hobby itu hampir-hampir ia tinggalkan. Tahun 1977, suaminya bapak Mas ngabehi Soekardi meninggal, tepat di Hari Lebaran, di tengah-tengah seluruh keluarga, terdiri dari seorang istri dengan 13 orang anak (satu orang sedang di luar negri) dan sekian orang cucu. Kepergian yang mendadak dari orang yang dicintai itu terasa sangat berat dan memilukan, karena bersamanya perjuangan hidup yang berliku-liku dilalui tanpa pernah berpisah sekalipun.
LAHAT YANG MEMBAWA BAHAGIA
Hari Minggu pagi yang lalu ketika KARTINI datang mengunjunginya, ibu Soekardi tengah membenahi kebunnya dengan ditemai seorang adik dan 2 orang anak tetangga yang senantiasa membantu ibu Soekardi merawat kebunnya. Kebun di sekeliling rumah yang terletak di jalan Cisitu Lama, Bandung Utara itu sebenarnya tidak terlalu luas. Katanya hanya kira-kira seperempat dari luas tanah dan kebun yang dimiliki keluarga Soekardi di Lahat dulu. “Aaaah. . . kalau ingat Lahat saya jadi sedih, ingat almarhum papie,” keluh ibu yang telah berusia 8 windu ini.
Mengapa Lahat?
“Memang, kisah ini semestinya dimulai dari Lahat,” kata ibu Soekardi. “Karena segala-galanya, yang indah maupun yang susah bermula di sana,” Lahat adalah sebuah kota kecil dekat Palembang, tempat keluarga Soekardi pernah menetap selama 40 tahun.
Sebenarnya, Pak Soekardi berasal dari Surabaya, sedangkan ibu memang orang dari Lahat. Tetapi pada tahun 1934, sebagai seorang pegawai jawatan Pekerjaan Umum Belanda, bapak kemudian dipindahkan ke Lahat. Beliau adalah seirang Insinyur Praktek, yang diangkat oleh Pemerintah Belanda karena keahlian dan pengalamannya yang banyak dalam bidang teknik sipil (pembuatan jembatan, bangunan dan menggambar). Dari seorang Kepala Jawatan PU Lahat, Pak Soekardi pernah juga menjadi Kepala PU Propinsi Sumatra Selatan yang waktu itu meliputi Palembang, Lampung, Bengkulu, Bangka dan Jambi.
Tugasnya selain menggambar, juga memeriksa dan meneliti pekerjaan di tempat proyek, yang tidak jarang terdapat jauh di daerah-daerah. Istilah ibu Soekardi ialah tourne. Dan kalau kebetulan Pak Soekardi membawa kendaraan untuk tourne, maka sering seluruh keluarga dibawa serta. “Itung-itung kami ikut berlibur,” tutur Ibu Soekardi.
Semasa hidupnya Pak Soekardi sangat aktif dan berjiwa sosial tinggi, dan selalu diterapkan pada keluarganya. Orangnya tidak pernah menganggur. Selain menjadi pemimpin perkuangan rakyat Sumatra Selatan, ia juga aktif dalam di organisasi partai, di Mesjid dan kegiatan sosial lainnya. Jadi rumahnya selalu ramai untuk rapat, pertemuan atau diskusi. Belum lagi kalau teman seperjuanganya datang , seperti Bung Karno, Bung Hatta atau Ipik Gandamana. “Rumah kami di Lahat luas dan besar, sehingga sering dipakai sebagai Markas pejuang dan dapur umum. Pernah kami sampai menjual barang perhiasan, karena persediaan makan dan uang menipis. Tapi saya dan keluarga sangat senang dan bersyukur dapat melakukan tugas itu, karena semua ini demi kemanusiaan, negara dan agama,” ujarnya merendah.
Setelah keadaan aman kembali, mereka memilih Lahat sebagai tempat menetap. Menurut ibu Soekardi, “hidup di Lahat menyenangkan, sampai bapak tidak ingin kembali ke Jawa. Bapak sudah jatuh cinta pada Lahat”. Tinggal di Lahat memang enak. Semua tetangga dan teman-teman sangat baik sampai mereka diangkat menjadi sesepuh warga Lahat.
Setelah anak terkecil lulus SMP – semua anak-anak kalau sudah selesai SMP selalu dikirim ke Jawa – ibu Soekardi mulai membujuk suaminya agar mau pindah ke Jawa. Waktu itu ia memang merasakan sepi tidak ada anak-anak, ditambah dengan kematian seorang pembantu setianya yang pernah mengabdi selama 35 tahun. Kesepianpun semakin mencekam.
Waktu anaknya yang nomor 10 mengambil tugas kerja praktek di Palembang, ia dipesan oleh kakak-kakanya untuk membawa ayah bundanya ke Jawa begitu ia selesai tugasnya. Mula-mula bujukan anaknya tidak “mempan”. Dan, terpaksa ibu membantu – karena kalau ini berhasil ia jugalah yang akan senang. Ibu mengatakan, “pak, bagaimana kalau kita tinggal di Lahat dan ibu mati duluan? Tentu bapak akan sendiri di Lahat. Anak-anak jauh dan sukar untuk bisa cepat-cepat datang menemui kita. Juga kalau bapak berpulang lebih dulu, ibulah yang akan sendiri dan kesepian, “ ucap ibu itu sambil mata berkaca-kaca mengenang masa lampau.
“Rupanya kata-kata saya mengena juga di hati bapak. Karena beberapa hari kemudian, kami pun langsung berangkat ikut Susanto (nama anak yang nomor 10) ke Surabaya. Sebelum menetap di Surabaya, kami berdua sempat pula berlibur ke tempat anak dan cucu di Aceh, Kalimantan, Jakarta, Manado dan Bandung sekedar pelepas rindu kami. Tapi, ternyata saat-saat itu adalah kesempatan bagi bapak untuk pamit, karena 3 bulan kemudan bapak meninggal.
DARI JAUH
Ibu dan bapak Soekardi menikah pada tahun 1936. Selama 21 tahun (1938-1959), ibu Soekardi melahirkan 14 kali dan mendapat 15 orang anak. Anaknya yang kedua adalah kembar, tapi satu orang meninggal ketika masih bayi.
“Keluarga berencana?, waaaah. . . waktu itu belum ada,” tertawanya berderai. Dan, walau ibu Soekardi merasa bahagia mendapatkan 14 orang anak, ia toh merasakan khawatir juga, “dan bukan tidak ada resikonya lho,” tambahnya. Apalagi selain proses melahirkan yang penuh bahaya, orang tua juga punya tugas membesarkan mereka – artinya mendidik dan merawatnya supaya anak-anak tidak terlantar hidup dan pendidikannya. Beruntung bagi ibu Soekardi, karena punya suami yang pandai, sehingga keadaannya tidak pernah sampai kekurangan, walaupun tidak juga terlalu berlebihan.
Menurut ibu Soekardi, ia tidak pernah merasa repot mengurus anak-anaknya, karena semua anak-anaknya mudah diatur. Malah kadang-kadang anak-anaknya bisa dikatakan penurut. Padahal ia tidak pernah memarahi anak-anaknya, apalagi menampar atau memukul, bahkan peraturan-peraturan yang dibuat tidak ada yang menekan atau mengekang mereka. “Saya hanya menterapkan disiplin dan tanggung jawab pada mereka, karena saya merasa itu bekal yang paling berguna bagi mereka, apalagi semua anak sekolah di Jawa, yang jauh dari pengawasan kami.”
Selanjutnya dalam mendidik anak-anaknya, ibu Soekardi sangat menekankan mereka agar taat beribadah, belajar tekun, hidup sederhana, pandai bergaul dan menjaga diri. “Saya selalu kasih komando saja dari jauh, tapi mereka itu anak-anak saya yang patuh dan nurut. Sehingga walaupun jauh, mereka tidak pernah lupa apa yang saya pesankan. Mereka tetap taat beribadah – bersembahyang 5 waktu dan hidupnya teratur.”
Dari dulu kehidupan keluarga dibiasakan sederhana, ibu Soekardi tidak pernah memberikan uang saku yang berlebihan. Supaya anak-anaknya tidak suka jajan, saya selalu membuat kue-kue kesukaan anak-anak. Dengan begitu mereka lalu akan menjadi hemat, dan mengeluarkan uangnya hanya untuk hal-hal yang penting saja, “Kalau tidak demikian, saya mungkin akan kewalahan memperhitungkan pengeluaran kami, apalagi semua anak-anak saya bersekolah di Jawa, yang tentunya memerlukan banyak biaya,” kata ibu Soekardi mantap.
TINGGAL MEMETIK HASILNYA
Ibu yang berbahagia ini kini tinggal di Bandung dalam sebuah rumah yang ditempatinya bersama 3 anaknya yang terakhir serta seorang adik perempuannya. Setelah suaminya meninggal empat tahun lalu, dan beberapa anak bersekolah di Bandung, ibu Soekardi lalu memutuskan pula untuk tinggal di Bandung. “Biar dekat dengan anak-anak, dan saya tidak sendiri,” tuturnya.
Rumah yang ditempatinya kini bukanlah rumah sendiri, tetapi rumah salah seorang teman anaknya yang ditukar pakai dengan rumah ibu Soekardi yang ada di Surabaya. “Ini hanya karena ada rasa saling percaya saja, karenanya tidak perlu ada akte notaris. Kami menempati rumah ini dengan cuma-cuma, begitu pula sebaliknya,” cerita ibu Soekardi.
Peristiwa di atas, adalah salah satu pencerminan keakraban dan kepercayaan orang kepada keluarga Soekardi yang memang terkenal baik dengan orang dan mempunyai rasa sosial yang tinggi. Hal-hal demikian memang selalu diterapkan pada anak-anaknya agar mereka tidak mendapat kesulitan di mana-mana.
Dalam usianya yang menginjak 64 tahun, ibu Soekardi kini menjadi seorang ibu yang sempurna dan dilimpahi Tuhan dengan sejuta kebahagiaan. “Saya sangat berterima kasih dan bersyukur pada Tuhan, bahwa semua cita-cita saya dikabulkannya.”
“Waktu kecil saya menginginkan kelak menjadi orang besar. Mempunyai banyak anak dan pandai-pandai. Bisa kasih uang pada orang-orang dan keluarga yang membutuhkan, juga punya suami yang baik dan berjiwa sosial tinggi. Semua ini terlaksana, saya sangat bersyukur pada Tuhan. Mudah-mudahan Tuhan juga tidak menjauhkan rejekinya pada anak-anak.”
Siapakah anak-anak bapak dan ibu Soekardi yang kini telah menjadi “orang”?
Mereka itu adalah:
- dr. Rawindra Soekardi, spesialis THT – lulusan UNAIR, bekerja di Samarinda.
- Ir. Sudarsono Soekardi, sarjana Sipil – lulusan ITB, bekerja di Samarinda.
- Ir. Susilo Soekardi, sarjana Sipil – lulusan ITB, bekerja di Manado.
- Ir. Nurwenda Soekardi, sarjana Sipil – lulusan Jerman, bekerja di Jakarta.
- Ir. Both Soekardi, sarjana Arsitektur – lulusan ITB, bekerja di Jakarta.
- Indrawati S. Sahmi Gumay, mahasiswa tingkat III jurusan teknologi Kimia ITB, turut suaminya bekerja di Aceh.
- Drs. Sugriwadi Soekardi, sarjana Sosial Politik – lulusan UNPAD, bekerja di Samarinda.
- Dra. Apoteker Susilowati S. Husni Ahmad, sarjana Farmasi – lulusan ITB, bekerja di Balikpapan.
- Dra. Herawati S. Anshori Djausal, sarjana Biologi – lulusan ITB, bekerja di Bandung.
- Ir. Susanto Soekardi, sarjana Perkapalan – lulusan UNAIR, bekerja di Jakarta.
- Ir. Winarti S. Fajar Irianto, sarjana Teknik Penyehatan – lulusan ITB, bekerja di Jakarta.
- Winarto Soekardi, mahasiswa fakultas Sosial Politik UNPAD.
- Heruseno Soekardi, mahasiswa fakultas peternakan UNPAD.
- Andralilianti Soekardi, mahasiswa fakultas Psikologi UNISBA.
Demikianlah, dengan 14 orang anak dan 28 orang cucu, kini ibu Soekardi mulai menjalankan masa istirahatnya dan kembali menekuni kegiatan berkebun yang merupakan hobby dan telah lama ditinggalkan. *** (rh)
Artikel ini merupakan salah satu artikel yang terdapat di Majalah Kartini pada tahun 1981 dan terletak pada halaman 171-172. Mbah Suaibah Soekardi, sebagaimana saya memanggil nenek saya, merupakan Ibunda dari Herawati Soekardi yang merupakan ibu saya.
Suka Transformer? Kalau Saya memang besar dengan kartun Transformer, apalagi keluar film layar lebar Transformer buatan Michael Bay tambah buat saya menyukai Robot-Robot yang bisa berubah bentuk ini. Kalau kamu kebetulan tertarik untuk memiliki aksesoris PC dalam bentuk transformer, pertimbangkanlah untuk mencari Transformer-Transformer di bawah ini :
Transformer USB Hub
Ravage Transformers UFD
Tigatron Transformers UFD
 Senter Transformers
Trypticon Transformers USB Laser Mouse
Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 Syawal 1430 Hijriah
Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Semoga dengan Ramadhan ini kita sama-sama kembali suci.
Minal Aidin Wal Faidzin.
Secara default, Windows XP meletakkan semua program dan software yang diinstal ke dalam direktori C:\Program Files. Ada cara yang mudah jika Anda ingin meletakkan direktori Program Files ke Partisi lain atau pun direktori lain. Cara mengubah path direktori Program Files tersebut dapat dilakukan dengan beberapa langkah mudah :
- Jalankan Regedit dari : Start Menu > Run.. (Bisa disingkat dengan Tombol Windows+R) > Ketik regedit dan tekan ENTER.
- Buka Jalur pada kolom sebelah Kiri : HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion.
- Cari Key yang bernama ProgramFilesDir, lakukan Modify (Klik 2x atau klik kanan pilih Modify).
- Silakan ubah nilainya menjadi Direktori yang diinginkan, misal : D:\Programs.
Mudah, ya? Selamat mencoba.
p.s. : Seharusnya bisa dilakukan juga pada versi Windows yang lain seperti Windows Vista.
Selagi browsing, saya menemukan situs gadget-gadget menarik. Salah satu nya adalah ini, Bandai Heli Robot RC Toy :
Mainan Bandai Heli Robot RC yang bisa terbang dengan kendali Remote Control. Menarik, ya. Silakan kunjungi situsnya.
Tugas terjemah Inggris ke Indonesia untuk kelas Praktikum Sistem Operasi dapat dilihat pada tabel berikut :
Untuk materi tugas dapat diklik pada link yang ada di Judulnya. Tugas dikumpul paling lambat tanggal 20 September 2009 jam 23:59 melalui email ke meizanoam@gmail.com. Mohon maaf sebesar-besarnya karena keterlambatan.
Nilai Makalah dan Presentasi Kelas ITI TI C SP 2008/2009 :
| No |
NPM |
Nama |
Kelompok |
Nilai |
| Presentasi |
Makalah |
| 1 |
07312121 |
Liza Putri Febrianti |
Wireless LAN |
6 |
7,5 |
| 2 |
07312110 |
Hendriansyah |
Wireless LAN |
6 |
7,5 |
| 3 |
07312172 |
Zusuf Setiawan |
Wireless LAN |
6 |
7,5 |
| 4 |
07372004 |
Samroni |
Wireless LAN |
3 |
3,75 |
| 5 |
08382011 |
Oktaria Putra |
Wireless Network Service Provider |
7 |
7,5 |
| 6 |
08312123 |
Andri Irawan |
Wireless Network Service Provider |
7 |
7,5 |
| 7 |
08312148 |
Dedy Febriansyah Putra |
Wireless Network Service Provider |
7 |
7,5 |
| 8 |
08312043 |
Jaka Persada Sembiring |
VSAT di Indonesia |
7,5 |
9 |
| 9 |
08312264 |
Tesa Saputra |
VSAT di Indonesia |
7,5 |
9 |
| 10 |
08312121 |
Anang Prehantoro |
VSAT di Indonesia |
7,5 |
9 |
| 11 |
08312144 |
BP Putra Hermana |
Sistem GPS pada HP |
7 |
9 |
| 12 |
08312256 |
Suci Puspa Vita Sari |
Sistem GPS pada HP |
7 |
9 |
| 13 |
08312273 |
Wiwin Sagita Windy |
Sistem GPS pada HP |
7 |
9 |
| 14 |
08312169 |
Fatkur |
ITI Perpustakaan Teknokrat |
7 |
8 |
| 15 |
08312178 |
Hamdani |
ITI Perpustakaan Teknokrat |
7 |
8 |
| 16 |
08312269 |
Wayan Yashuni |
ITI Perpustakaan Teknokrat |
7 |
8 |
| 17 |
07312021 |
David Yuliansyah |
ITI Bumi Putera 1912 |
7 |
7,5 |
| 18 |
07312119 |
Khoirul Nasir |
ITI Bumi Putera 1912 |
7 |
7,5 |
| 19 |
07312122 |
M. Adde Pranata |
ITI Bumi Putera 1912 |
7 |
7,5 |
| 20 |
07312186 |
Diana Novita Agustina |
ITI Pemilu dengan ICR |
8 |
9 |
| 21 |
07312111 |
Hera Fransiska |
ITI Pemilu dengan ICR |
8 |
9 |
| 22 |
07312143 |
Nurlia Ramadhani |
ITI Pemilu dengan ICR |
8 |
9 |
| 23 |
08312458 |
Efriyanto |
Wireless Hotspot |
6,5 |
7 |
| 24 |
08312175 |
Giorgius Chrismanto |
Wireless Hotspot |
6,5 |
7 |
| 25 |
08312228 |
Rahmat Syukur |
Wireless Hotspot |
6,5 |
7 |
| 26 |
07312022 |
Davit Christian A.W.B. |
E-Library Sekolah |
6 |
7 |
| 27 |
07312036 |
Hendra Putra |
E-Library Sekolah |
6 |
7 |
| 28 |
07312007 |
Agus Alpian Jaya |
E-Library Sekolah |
6 |
7 |
| 29 |
08352004 |
Dora Sandi |
RI-GRID |
7 |
8 |
| 30 |
08312281 |
Yudi Priatama |
RI-GRID |
7 |
8 |
| 31 |
07312144 |
Nyoman Turyane |
RI-GRID |
7 |
8 |
| 32 |
08312300 |
Agus Supriyanto |
Billing Pada Warnet |
6 |
7 |
| 33 |
08312254 |
Sri Samriyanti |
Billing Pada Warnet |
6 |
7 |
| 34 |
08312431 |
Zulkarnain |
Billing Pada Warnet |
6 |
7 |
| 35 |
08312227 |
Pradikta Ambar Khusuma |
E-Commerce |
9 |
9 |
| 36 |
08312217 |
Nilam Sari |
E-Commerce |
9 |
9 |
| 37 |
08312193 |
Jie Ciung |
E-Commerce |
9 |
9 |
| 38 |
08312202 |
Linda Puspita Sari |
TV Kabel/Satelit |
7,5 |
9 |
| 39 |
08312274 |
Wiwit Indah Listiana |
TV Kabel/Satelit |
7,5 |
9 |
| 40 |
08312119 |
Ali Samsa |
Tidak Ada |
0 |
0 |
Jika ada yang kurang sesuai, harap informasikan melalui comment atau email. Terimakasih.
I just watch Dragonball Evolution. If you’re new and interested to know Dragonball Saga (a famous manga by Akira Toriyama), you better off reading the manga or watching the anime tv series instead of this movie. Want to know why? Read this review in AnimeNewsNetwork. It will tell you all you need to know about this movie.
Oh, BTW, the movie is ridiculously irrational and emotionless!! I hate it when they do nothing good and always wrong.
Saya kebetulan sedang ada permintaan dari teman untuk mensetting HotSpot menggunakan modem Huawei 3G TELKOMSELFlash dan Access Point LinkSys WAP54G v3.1. Tentu saja disini saya memerlukan peralatan tambahan berupa sebuah PC yang memiliki port LAN dan USB, dan memiliki sistem operasi Windows XP (menyesuaikan dengan pesanan, jadi harus menggunakan Windows).
Jadi bisa dirangkum yang diperlukan untuk membangun HotSpot ini adalah:
- Modem Huawei 3G TELKOMSELFlash
- Access Point LinkSys WAP54G v3.1
- PC dengan port LAN (untuk AP), port USB (untuk modem), dan Sistem Operasi Windows XP.
- Kabel UTP untuk menghubungkan AP ke PC
Untuk menyingkat waktu, kita langsung mulai saja,ya.
- Colok modem TELKOMSELFlash ke dalam port USB. apabila autorun di komputer anda bekerja, maka silakan ikuti perintah untuk instalasi modem TELKOMSELFlash. Apabila tidak, buka CD virtual TELKOMSELFlash yang muncul di My Computer, jalankan AutoRun.exe dan ikuti langkah instalasi sampai dengan selesai.
- Sesudah Aplikasi diinstall, jalankan aplikasi TELKOMSELFlash dari desktop atau Start Menu > TELKOMSELFlash > TELKOMSELFlash. Pilih Connection, Profile (layanan) yang digunakan dan klik Connect atau Sambungkan (tergantung bahasa). Apabila anda membuka Network Connections di Control Panel, akan muncul Setting Dial Up baru (Tergantung pilihan profile), Tsel Internet atau Tsel Broadband. Silakan dicoba dulu apakah internetnya berfungsi, kalau sudah, lanjut ke langkah berikut.
Gambar 1. TelkomFlash
- Buka Control Panel, Network Connections, ubah IP statis “Local Area Connection” di Network Connections pada Control Panel dengan cara klik kanan pada icon “Local Area Connection”, pilih Properties, pada “This Connection uses the following items”, pilih “Internet Protocol (TCP/IP)” (biasanya paling bawah), klik Properties. Ubah IP address menjadi 192.168.1.1 dan subnet mask 255.255.255.0, yang lainnya kosongkan. Klik OK, dan tutup Properties.
Gambar 2. Network Connections
Gambar 3. Local Area Connection Properties
- Hubungkan AP LinkSys dengan kabel UTP ke PC. Buka Internet Browser (contoh : Mozilla Firefox, Opera, Google Chrome, Safari, Internet Explorer, dsb), ketikkan pada addressnya 192.168.1.245 (ini adalah IP address default dari AP). Pada saat diminta password, kosongkan user dan isikan pada password : admin (ini adalah setting default AP).
- (Opsional) Untuk merubah SSID yang akan digunakan sebagai identitas HotSpot, klik Wireless, ubah nama Network Name(SSID) menjadi yang diinginkan, misal LSHotSpot. Catatan : sebaiknya dilakukan sebelum mengganti Static IP.
Gambar 4. Wireless Settings
- Pada Setup, Ubah Configuration Type menjadi “Static IP”. Ubah IP address menjadi : 192.168.0.245, subnet mask : 255.255.255.0, dan Default Gateway menjadi : 192.168.0.1. Klik Save Settings.
Gambar 5. AP Static IP Settings
- Buka Control Panel, Network Connections klik kanan dan pilih Properties pada (Tergantung pilihan profile) Tsel Internet atau Tsel Broadband. Pilih tab Advanced. Pada Internet Connection Sharing, contreng “Allow other network users …”, Pilih Home Networking Connection : “Local Area Connection”. Selain itu, hapus saja contreng untuk yang lain. Klik Ok.
- Buka Control Panel, Network Connections, ubah IP statis “Local Area Connection” di Network Connections pada Control Panel dengan cara klik kanan pada icon “Local Area Connection”, pilih Properties, pada “This Connection uses the following items”, pilih “Internet Protocol (TCP/IP)” (biasanya paling bawah), klik Properties. Ubah IP address menjadi 192.168.0.1 dan subnet mask 255.255.255.0, yang lainnya kosongkan. Klik OK, dan tutup Properties.
- Ok, sekarang kita masuk dalam langkah terakhir, setting klien. Sayangnya, DHCP tidak berfungsi dengan baik pada sistem ini. Sehingga, kita harus melakukan setting secara manual pada klien. Pada komputer/alat klien, yang pertama kita lakukan adalah mengasosiasikan dirinya dengan SSID HotSpot (dalah hal ini, namanya : LSHotSpot). Setelah klien terhubung, kita perlu melakukan konfigurasi IP address pada klien. Pada komputer yang menggunakan Windows XP, caranya sama dengan setting IP pada langkah di atas, dengan syarat : IP address yang digunakan adalah 192.168.0.2-244 dan 192.168.0.246-254 , Subnet Mask : 255.255.255.0, dan kemudian yang agak berbeda adalah Default Gateway : 192.168.0.1. Khusus untuk DNS, saya tidak berhasil menggunakan DNS TELKOMSELFlash (bisa dilihat dengan cara: Klik Start Menu, Run…, ketik cmd, klik OK, pada command prompt ketik “IPCONFIG /ALL”, cari DNS Server pada Tsel Internet/Broadband), jadi kita akan menggunakan alamat OpenDNS, yaitu: Preferred DNS Server : 208.67.222.222 dan Secondary DNS Server : 208.67.220.220. Atau jika Anda ingin sekaligus memblokir situs porno, bisa menggunakan DNS dari Awari : Preferred DNS Server : 203.34.118.10 dan Secondary DNS Server : 203.34.118.12. Contoh : IP Address 192.168.0.101, Subnet Mask 255.255.255.0, Default Gateway 192.168.0.1, Preferred DNS Server : 208.67.222.222 dan Secondary DNS Server : 208.67.220.220.
Panjang juga,ya. Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan comment, akan Saya usahakan menjawab secepatnya. Selamat mencoba!
Soal :
Buatlah source code Pascal untuk program laporan keuangan yang tiap datanya mengandung no, tanggal, bulan, tahun,
keterangan, dan biaya. Ketentuan:
- Buat data dalam bentuk struktur data
- Buat prosedur untuk menghitung jumlah pengeluaran berdasarkan rentang data
- Buat prosedur untuk menampilkan hasil
Jawab :
program LapKeu;
{$APPTYPE CONSOLE}
uses
SysUtils;
type
pengeluaran=record
no,tgl,bln,thn:integer;
keterangan:String[25];
biaya:real;
end;
var
jml_eks, i : integer;
ekspense:array[1..1000] of pengeluaran;
procedure TampilanData;
begin
writeln(’—————–Laporan Keuangan—————–’);
writeln(’————————————————–’);
writeln(’|No |Tanggal | Keterangan | Biaya |’);
writeln(’————————————————–’);
for i:=1 to jml_eks do
begin
with ekspense[i] do
writeln(’|',No:3,’|',tgl:2,’/',bln:2,’/',
thn:2,’|',keterangan:25,’|',biaya:10:2,’|');
end;
end;
procedure JumlahData(awal,akhir:integer);
var hasil:real;
begin
for i:=awal to akhir do
begin
hasil:=hasil+ekspense[i].biaya;
end;
writeln(’Jumlah data dari ‘,awal,’s.d.’,akhir,
‘ = ‘, hasil:10:2);
end;
procedure inputdata(nomor:integer);
begin
with ekspense[nomor] do
begin
No:=nomor;
writeln(’No. ‘, No);
write(’Tanggal = ‘);readln(tgl);
write(’Bulan = ‘);readln(bln);
write(’Tahun = ‘);readln(thn);
write(’Keterangan = ‘);readln(keterangan);
write(’Biaya = ‘);readln(biaya);
end;
end;
begin
write(’Berapa jumlah data? ‘);readln(jml_eks);
for i:=1 to jml_eks do
begin
inputdata(i);
end;
tampilandata;
jumlahdata(1,jml_eks);
readln;
end.
Modul Praktikum Sistem Operasi 7 mengenai Manajemen Jaringan di Linux dapat diunduh disini.
Modul Praktikum Sistem Operasi :
Modul Praktikum Sistem Operasi 7 : Manajemen Jaringan di Linux (474)
Sebagai rasa syukur kami kepada Allah SWT, kami sekeluarga mengundang Bapak, Ibu, saudara (i) untuk datang ke acara syukuran Aqiqah anak kami Hana Linka Djausal yang lahir di RS Ibu dan Anak Anugerah Medika pada hari Senin 9 Maret 2009 jam 15.15.
Acara akan diselenggarakan:
- Hari : Minggu
- Tanggal : 7 Juni 2009
- Waktu : 10.00 - selesai
- Tempat : Rumah Cacaca Jl Arif Rahman Hakim (Rumah Kayu) Gg. Tobari tepat di samping SD Tunas Mekar, Bandar Lampung
Atas kehadirannya kami ucapkan terima kasih.
Saya selalu berpikir setiap kali orang menyebut kurangnya partisipasi perempuan di berbagai hal, di bidang politik, pekerjaan, kegiatan, dsb. Pertanyaan yang muncul di kepala Saya adalah mengenai kesetaraan pekerjaan (atau mata pencaharian), pernah tidak kita berpikir mengenai persentase ideal jumlah pekerja pria dan wanita yang akan memberikan kesejahteraan ideal? Sebelum kita mengambil kesimpulan yang disebut setara adalah fifthy-fifthy (atau dalam angka 50%/50%) laki-laki dan perempuan, mari kita pertimbangkan faktor-faktor yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kondisi sosial yang ideal di pandangan masyarakat (tentu saja berdasarkan pandangan Saya), yaitu :
***Peringatan***
Pembahasan berikutnya mungkin akan membuat Anda tersinggung, tetapi sungguh saya hanya ingin mengajak Anda melihat melalui kacamata Saya. Apabila Anda tidak masalah, silakan baca terus.
***Peringatan***
- Setiap laki-laki (terutama yang akan menjadi suami) harus dapat mencari nafkah untuk diri sendiri (dan wajib untuk keluarga, untuk yang sudah berkeluarga).
- Penghasilan yang didapat oleh perempuan adalah untuk dirinya sendiri, tidak harus diberikan kepada keluarga.
- Secara kodratinya manusia akan berusaha membentuk keluarga, otomatis setiap laki-laki akan menjadi ayah dan setiap perempuan akan menjadi ibu.
- Setiap laki-laki yang menjadi ayah harus dapat menjamin bahwa anaknya dapat tumbuh dengan baik di lingkungan yang sehat, yang tentu saja berkaitan dengan kemampuan menghidupi keluarga (menafkahi).
- Setiap perempuan harus dapat menjadi ibu bagi anak-anaknya, berarti merawat, mendidik, dan membesarkannya.
Apabila kita andaikan dalam 100 orang pekerja semua menikah. Berapa persentase yang paling tepat yang akan memberikan jumlah maksimal keluarga yang terjamin kehidupannya termasuk dalam pendidikan anaknya?
Batasan yang diberikan disini adalah :
- Tidak mempertimbangkan faktor luar seperti suami dan anak dari pekerja yang perempuan.
- Diasumsikan saja setiap keluarga akan memiliki 2 anak karena mengikuti program KB.
Kita coba beberapa perbandingan :
1. 50% laki-laki dan 50% perempuan
50% laki-laki akan berkeluarga, berarti :
Jumlah orang: 50% x 100 (jumlah total pekerja) x 2 (suami & istri) = 100 orang
50% perempuan, berarti :
Jumlah orang: 50% x 100 (jumlah total pekerja) = 50 orang
Anak 2 orang, berarti :
Jumlah orang: 50% x 100 (jumlah total pekerja) x 2 (anak-anak) = 100 orang
Total jumlah orang yang dihidupi : 100 orang (suami & istri) + 50 orang (perempuan) + 100 orang (anak-anak) =250 orang
2. 75% laki-laki dan 25% perempuan
75% laki-laki akan berkeluarga, berarti :
Jumlah orang: 75% x 100 (jumlah total pekerja) x 2 (suami & istri) = 150 orang
25% perempuan, berarti :
Jumlah orang: 25% x 100 (jumlah total pekerja) = 25 orang
Anak 2 orang, berarti :
Jumlah orang: 75% x 100 (jumlah total pekerja) x 2 (anak-anak) = 150 orang
Total jumlah orang yang dihidupi : 150 orang (suami & istri) + 25 orang (perempuan) + 150 orang (anak-anak) =325 orang
3. 25% laki-laki dan 75% perempuan
25% laki-laki akan berkeluarga, berarti :
Jumlah orang: 25% x 100 (jumlah total pekerja) x 2 (suami & istri) = 50 orang
75% perempuan, berarti :
Jumlah orang: 75% x 100 (jumlah total pekerja) = 75 orang
Anak 2 orang, berarti :
Jumlah orang: 25% x 100 (jumlah total pekerja) x 2 (anak-anak) = 50 orang
Total Jumlah orang yang dihidupi : 50 orang (suami & istri) + 75 orang (perempuan) + 50 orang (anak-anak) = 175 orang
4. 0% laki-laki dan 100% perempuan
0% laki-laki akan berkeluarga, berarti :
Jumlah orang: 0% x 100 (jumlah total pekerja) x 2 (suami & istri) = 0 orang
100% perempuan, berarti :
Jumlah orang: 100% x 100 (jumlah total pekerja) = 100 orang
Anak 2 orang, berarti :
Jumlah orang: 0% x 100 (jumlah total pekerja) x 2 (anak-anak) = 0 orang
Total Jumlah orang yang dihidupi : 0 orang (suami & istri) + 100 orang (perempuan) + 0 orang (anak-anak) = 100 orang
5. 100% laki-laki dan 0% perempuan
100% laki-laki akan berkeluarga, berarti :
Jumlah orang: 100% x 100 (jumlah total pekerja) x 2 (suami & istri) = 200 orang
0% perempuan, berarti :
Jumlah orang: 0% x 100 (jumlah total pekerja) = 0 orang
Anak 2 orang, berarti :
Jumlah orang: 100% x 100 (jumlah total pekerja) x 2 (anak-anak) = 200 orang
Total Jumlah orang yang dihidupi : 200 orang (suami & istri) + 0 orang (perempuan) + 200 orang (anak-anak) = 400 orang
Berarti :
- 50% laki-laki dan 50% perempuan jumlah orang yang bisa dihidupi adalah 250 orang.
- 75% laki-laki dan 25% perempuan jumlah orang yang bisa dihidupi adalah 325 orang.
- 25% laki-laki dan 75% perempuan jumlah orang yang bisa dihidupi adalah 175 orang.
- 0% laki-laki dan 100% perempuan jumlah orang yang bisa dihidupi adalah 100 orang.
- 100% laki-laki dan 0% perempuan jumlah orang yang bisa dihidupi adalah 400 orang.
Bagaimana seandainya faktor anak tidak dimasukkan? Mari kita lihat :
- 50% laki-laki dan 50% perempuan jumlah orang yang bisa dihidupi adalah 150 orang.
- 75% laki-laki dan 25% perempuan jumlah orang yang bisa dihidupi adalah 175 orang.
- 25% laki-laki dan 75% perempuan jumlah orang yang bisa dihidupi adalah 125 orang.
- 0% laki-laki dan 100% perempuan jumlah orang yang bisa dihidupi adalah 100 orang.
- 100% laki-laki dan 0% perempuan jumlah orang yang bisa dihidupi adalah 200 orang.
Bagaimana jika lajang semua? Yang ini tidak perlu dihitung repot-repot. Angkanya pasti tetap di posisi 100 orang.
Ok, berdasarkan hasil di atas, silakan disimpulkan sendiri. Bagaimana pendapat kalian?
Modul Praktikum Sistem Operasi 6 mengenai Manajemen Proses di Linux dapat diunduh disini.
Modul Praktikum Sistem Operasi :
Modul Praktikum Sistem Operasi 6 : Manajemen Proses di Linux (236)

Apakah mahasiswa ITB yang katanya cerdas-cerdas itu masih ada yang berani menyontek? Jawabannya cukup mencengangkan: ada! Menyontek adalah masalah moral, dan moral tidak ada kaitannya dengan cerdas atau bukan. Korupsi saja contohnya, banyak dilakukan oleh orang-orang pintar keluaran perguaran tinggi.
Kutipan di atas adalah sebagian dari artikel yang ditulis oleh Pak Rinaldi Munir, dosen ITB. Menyontek ternyata tidak berkaitan dengan cerdas atau tidaknya seseorang, tetapi lebih berkaitan dengan ketidaksiapan dan tidak percaya dirinya seseorang. Bca lengkap artikelnya Pak Rinaldi Munir disini.
|
|
Komentar