BERKEBUN, kini kembali menjadi pekerjaannya setiap pagi, setelah kurang lebih empat tahun hobby itu hampir-hampir ia tinggalkan. Tahun 1977, suaminya bapak Mas ngabehi Soekardi meninggal, tepat di Hari Lebaran, di tengah-tengah seluruh keluarga, terdiri dari seorang istri dengan 13 orang anak (satu orang sedang di luar negri) dan sekian orang cucu. Kepergian yang mendadak dari orang yang dicintai itu terasa sangat berat dan memilukan, karena bersamanya perjuangan hidup yang berliku-liku dilalui tanpa pernah berpisah sekalipun.
LAHAT YANG MEMBAWA BAHAGIA
Hari Minggu pagi yang lalu ketika KARTINI datang mengunjunginya, ibu Soekardi tengah membenahi kebunnya dengan ditemai seorang adik dan 2 orang anak tetangga yang senantiasa membantu ibu Soekardi merawat kebunnya. Kebun di sekeliling rumah yang terletak di jalan Cisitu Lama, Bandung Utara itu sebenarnya tidak terlalu luas. Katanya hanya kira-kira seperempat dari luas tanah dan kebun yang dimiliki keluarga Soekardi di Lahat dulu. “Aaaah. . . kalau ingat Lahat saya jadi sedih, ingat almarhum papie,” keluh ibu yang telah berusia 8 windu ini.
Mengapa Lahat?
“Memang, kisah ini semestinya dimulai dari Lahat,” kata ibu Soekardi. “Karena segala-galanya, yang indah maupun yang susah bermula di sana,” Lahat adalah sebuah kota kecil dekat Palembang, tempat keluarga Soekardi pernah menetap selama 40 tahun.
Sebenarnya, Pak Soekardi berasal dari Surabaya, sedangkan ibu memang orang dari Lahat. Tetapi pada tahun 1934, sebagai seorang pegawai jawatan Pekerjaan Umum Belanda, bapak kemudian dipindahkan ke Lahat. Beliau adalah seirang Insinyur Praktek, yang diangkat oleh Pemerintah Belanda karena keahlian dan pengalamannya yang banyak dalam bidang teknik sipil (pembuatan jembatan, bangunan dan menggambar). Dari seorang Kepala Jawatan PU Lahat, Pak Soekardi pernah juga menjadi Kepala PU Propinsi Sumatra Selatan yang waktu itu meliputi Palembang, Lampung, Bengkulu, Bangka dan Jambi.
Tugasnya selain menggambar, juga memeriksa dan meneliti pekerjaan di tempat proyek, yang tidak jarang terdapat jauh di daerah-daerah. Istilah ibu Soekardi ialah tourne. Dan kalau kebetulan Pak Soekardi membawa kendaraan untuk tourne, maka sering seluruh keluarga dibawa serta. “Itung-itung kami ikut berlibur,” tutur Ibu Soekardi.
Semasa hidupnya Pak Soekardi sangat aktif dan berjiwa sosial tinggi, dan selalu diterapkan pada keluarganya. Orangnya tidak pernah menganggur. Selain menjadi pemimpin perkuangan rakyat Sumatra Selatan, ia juga aktif dalam di organisasi partai, di Mesjid dan kegiatan sosial lainnya. Jadi rumahnya selalu ramai untuk rapat, pertemuan atau diskusi. Belum lagi kalau teman seperjuanganya datang , seperti Bung Karno, Bung Hatta atau Ipik Gandamana. “Rumah kami di Lahat luas dan besar, sehingga sering dipakai sebagai Markas pejuang dan dapur umum. Pernah kami sampai menjual barang perhiasan, karena persediaan makan dan uang menipis. Tapi saya dan keluarga sangat senang dan bersyukur dapat melakukan tugas itu, karena semua ini demi kemanusiaan, negara dan agama,” ujarnya merendah.
Setelah keadaan aman kembali, mereka memilih Lahat sebagai tempat menetap. Menurut ibu Soekardi, “hidup di Lahat menyenangkan, sampai bapak tidak ingin kembali ke Jawa. Bapak sudah jatuh cinta pada Lahat”. Tinggal di Lahat memang enak. Semua tetangga dan teman-teman sangat baik sampai mereka diangkat menjadi sesepuh warga Lahat.
Setelah anak terkecil lulus SMP – semua anak-anak kalau sudah selesai SMP selalu dikirim ke Jawa – ibu Soekardi mulai membujuk suaminya agar mau pindah ke Jawa. Waktu itu ia memang merasakan sepi tidak ada anak-anak, ditambah dengan kematian seorang pembantu setianya yang pernah mengabdi selama 35 tahun. Kesepianpun semakin mencekam.
Waktu anaknya yang nomor 10 mengambil tugas kerja praktek di Palembang, ia dipesan oleh kakak-kakanya untuk membawa ayah bundanya ke Jawa begitu ia selesai tugasnya. Mula-mula bujukan anaknya tidak “mempan”. Dan, terpaksa ibu membantu – karena kalau ini berhasil ia jugalah yang akan senang. Ibu mengatakan, “pak, bagaimana kalau kita tinggal di Lahat dan ibu mati duluan? Tentu bapak akan sendiri di Lahat. Anak-anak jauh dan sukar untuk bisa cepat-cepat datang menemui kita. Juga kalau bapak berpulang lebih dulu, ibulah yang akan sendiri dan kesepian, “ ucap ibu itu sambil mata berkaca-kaca mengenang masa lampau.
“Rupanya kata-kata saya mengena juga di hati bapak. Karena beberapa hari kemudian, kami pun langsung berangkat ikut Susanto (nama anak yang nomor 10) ke Surabaya. Sebelum menetap di Surabaya, kami berdua sempat pula berlibur ke tempat anak dan cucu di Aceh, Kalimantan, Jakarta, Manado dan Bandung sekedar pelepas rindu kami. Tapi, ternyata saat-saat itu adalah kesempatan bagi bapak untuk pamit, karena 3 bulan kemudan bapak meninggal.
DARI JAUH
Ibu dan bapak Soekardi menikah pada tahun 1936. Selama 21 tahun (1938-1959), ibu Soekardi melahirkan 14 kali dan mendapat 15 orang anak. Anaknya yang kedua adalah kembar, tapi satu orang meninggal ketika masih bayi.
“Keluarga berencana?, waaaah. . . waktu itu belum ada,” tertawanya berderai. Dan, walau ibu Soekardi merasa bahagia mendapatkan 14 orang anak, ia toh merasakan khawatir juga, “dan bukan tidak ada resikonya lho,” tambahnya. Apalagi selain proses melahirkan yang penuh bahaya, orang tua juga punya tugas membesarkan mereka – artinya mendidik dan merawatnya supaya anak-anak tidak terlantar hidup dan pendidikannya. Beruntung bagi ibu Soekardi, karena punya suami yang pandai, sehingga keadaannya tidak pernah sampai kekurangan, walaupun tidak juga terlalu berlebihan.
Menurut ibu Soekardi, ia tidak pernah merasa repot mengurus anak-anaknya, karena semua anak-anaknya mudah diatur. Malah kadang-kadang anak-anaknya bisa dikatakan penurut. Padahal ia tidak pernah memarahi anak-anaknya, apalagi menampar atau memukul, bahkan peraturan-peraturan yang dibuat tidak ada yang menekan atau mengekang mereka. “Saya hanya menterapkan disiplin dan tanggung jawab pada mereka, karena saya merasa itu bekal yang paling berguna bagi mereka, apalagi semua anak sekolah di Jawa, yang jauh dari pengawasan kami.”
Selanjutnya dalam mendidik anak-anaknya, ibu Soekardi sangat menekankan mereka agar taat beribadah, belajar tekun, hidup sederhana, pandai bergaul dan menjaga diri. “Saya selalu kasih komando saja dari jauh, tapi mereka itu anak-anak saya yang patuh dan nurut. Sehingga walaupun jauh, mereka tidak pernah lupa apa yang saya pesankan. Mereka tetap taat beribadah – bersembahyang 5 waktu dan hidupnya teratur.”
Dari dulu kehidupan keluarga dibiasakan sederhana, ibu Soekardi tidak pernah memberikan uang saku yang berlebihan. Supaya anak-anaknya tidak suka jajan, saya selalu membuat kue-kue kesukaan anak-anak. Dengan begitu mereka lalu akan menjadi hemat, dan mengeluarkan uangnya hanya untuk hal-hal yang penting saja, “Kalau tidak demikian, saya mungkin akan kewalahan memperhitungkan pengeluaran kami, apalagi semua anak-anak saya bersekolah di Jawa, yang tentunya memerlukan banyak biaya,” kata ibu Soekardi mantap.
TINGGAL MEMETIK HASILNYA
Ibu yang berbahagia ini kini tinggal di Bandung dalam sebuah rumah yang ditempatinya bersama 3 anaknya yang terakhir serta seorang adik perempuannya. Setelah suaminya meninggal empat tahun lalu, dan beberapa anak bersekolah di Bandung, ibu Soekardi lalu memutuskan pula untuk tinggal di Bandung. “Biar dekat dengan anak-anak, dan saya tidak sendiri,” tuturnya.
Rumah yang ditempatinya kini bukanlah rumah sendiri, tetapi rumah salah seorang teman anaknya yang ditukar pakai dengan rumah ibu Soekardi yang ada di Surabaya. “Ini hanya karena ada rasa saling percaya saja, karenanya tidak perlu ada akte notaris. Kami menempati rumah ini dengan cuma-cuma, begitu pula sebaliknya,” cerita ibu Soekardi.
Peristiwa di atas, adalah salah satu pencerminan keakraban dan kepercayaan orang kepada keluarga Soekardi yang memang terkenal baik dengan orang dan mempunyai rasa sosial yang tinggi. Hal-hal demikian memang selalu diterapkan pada anak-anaknya agar mereka tidak mendapat kesulitan di mana-mana.
Dalam usianya yang menginjak 64 tahun, ibu Soekardi kini menjadi seorang ibu yang sempurna dan dilimpahi Tuhan dengan sejuta kebahagiaan. “Saya sangat berterima kasih dan bersyukur pada Tuhan, bahwa semua cita-cita saya dikabulkannya.”
“Waktu kecil saya menginginkan kelak menjadi orang besar. Mempunyai banyak anak dan pandai-pandai. Bisa kasih uang pada orang-orang dan keluarga yang membutuhkan, juga punya suami yang baik dan berjiwa sosial tinggi. Semua ini terlaksana, saya sangat bersyukur pada Tuhan. Mudah-mudahan Tuhan juga tidak menjauhkan rejekinya pada anak-anak.”
Siapakah anak-anak bapak dan ibu Soekardi yang kini telah menjadi “orang”?
Mereka itu adalah:
- dr. Rawindra Soekardi, spesialis THT – lulusan UNAIR, bekerja di Samarinda.
- Ir. Sudarsono Soekardi, sarjana Sipil – lulusan ITB, bekerja di Samarinda.
- Ir. Susilo Soekardi, sarjana Sipil – lulusan ITB, bekerja di Manado.
- Ir. Nurwenda Soekardi, sarjana Sipil – lulusan Jerman, bekerja di Jakarta.
- Ir. Both Soekardi, sarjana Arsitektur – lulusan ITB, bekerja di Jakarta.
- Indrawati S. Sahmi Gumay, mahasiswa tingkat III jurusan teknologi Kimia ITB, turut suaminya bekerja di Aceh.
- Drs. Sugriwadi Soekardi, sarjana Sosial Politik – lulusan UNPAD, bekerja di Samarinda.
- Dra. Apoteker Susilowati S. Husni Ahmad, sarjana Farmasi – lulusan ITB, bekerja di Balikpapan.
- Dra. Herawati S. Anshori Djausal, sarjana Biologi – lulusan ITB, bekerja di Bandung.
- Ir. Susanto Soekardi, sarjana Perkapalan – lulusan UNAIR, bekerja di Jakarta.
- Ir. Winarti S. Fajar Irianto, sarjana Teknik Penyehatan – lulusan ITB, bekerja di Jakarta.
- Winarto Soekardi, mahasiswa fakultas Sosial Politik UNPAD.
- Heruseno Soekardi, mahasiswa fakultas peternakan UNPAD.
- Andralilianti Soekardi, mahasiswa fakultas Psikologi UNISBA.
Demikianlah, dengan 14 orang anak dan 28 orang cucu, kini ibu Soekardi mulai menjalankan masa istirahatnya dan kembali menekuni kegiatan berkebun yang merupakan hobby dan telah lama ditinggalkan. *** (rh)
Artikel ini merupakan salah satu artikel yang terdapat di Majalah Kartini pada tahun 1981 dan terletak pada halaman 171-172. Mbah Suaibah Soekardi, sebagaimana saya memanggil nenek saya, merupakan Ibunda dari Herawati Soekardi yang merupakan ibu saya.
Komentar